26 July 2009

Qiyamullail

Adapun mengenai faktor-faktor yang dapat membantu untuk melakukan qiyamullail sangat banyak sekali, sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama, diantaranya adalah:

Faktor Pertama:
Bertasbih tiga puluh tiga kali ketika tidur, bertahmid tiga puluh tiga kali dan bertakbir tiga puluh tiga kali.
Dalil yang menguatkan hal itu adalah bahwa Fathimah binti Rasulullah saw ra meminta seorang pembantu yang akan membantunya atau seorang hamba sahaya yang akan menolongnya kepada Rasulullah saw.
Maka Rasulullah saw bersabda, “Maukah kamu berdua aku tunjuki kepada suatu kebaikan yang lebih baik daripada seorang pembantu. Apabila kamu berdua hendak tidur, maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh tiga kali.”

Faktor Kedua:
Hendaknya seorang muslim melakukan tidur di siang hari, baik itu sebelum shalat Dzuhur bagi orang yang tidak mempunyai pekerjaan di waktu itu atau setelah makan siang (setelah Dzuhur).

Faktor Ketiga:
Menghindari dosa dan kesalahan semaksimal mungkin, karena hal ini adalah penyebab utama dari tersia-siakannya sebuah amal dan penyebab kemalasan dan kelemahan untuk melakukan qiyamullail.
Suatu ketika orang-orang berkata kepada Hasan Basri, “Wahai Abu Said, kami tidak mampu untuk melakukan qiyamullail.” Hasan Basri mengatakan, “Demi Allah, kalian telah dikekang oleh kesalahan dan dosa-dosa kalian.”

Faktor Keempat:
Jangan begadang di malam hari (tidur terlalu larut malam) karena begadang tidak ada manfaatnya. Bahkan hal itu akan memberikan mudharat bagi seorang hamba.
Para ulama mengatakan, “Barang siapa yang begadang sampai melewatkan shalat Shubuh, dia telah melakukan sesuatu yang diharamkan, meskipun dia begadang untuk membaca al-Qur'an. Karena membaca al-Qur'an itu hukumnya sunnah.”
Bagaimana dengan orang-orang yang begadang dengan perbincangan dan obrolan yang sia-sia sehingga dia melewatkan shalat Shubuh?

Mengenai doa di waktu qiyamullail ada tiga doa supaya seorang muslim menghafalnya yang mana saja yang dia sukai. Apabila dia tidak mampu untuk menghafalnya, maka hendaknya dia berdoa dari apa saja yang dia mampu karena Allah swt menerima doa dari hati yang khusyuk. Jadi, kefasihan dan kehebatan gaya bahasa tidak berarti akan dekat kepada Allah swt apabila hatinya lalai.

Dalam shahih Muslim, Aisyah ra berkata, apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau berdoa, “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang disaksikan, Engkau memutuskan di antara para hamba-Mu terhadap sesuatu yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku kepada kebenaran dalam sesuatu yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”

Dalam salah satu hadits shahih dikatakan bahwa Rasulullah saw berdoa ketika qiyamullail, “Ya Allah berikanlah cahaya di hatiku, berikanlah cahaya pada pendengaranku, berikanlah cahaya pada penglihatanku, berikanlah cahaya di hadapanku, berikanlah cahaya dari belakangku, berikanlah cahaya dari samping kananku dan samping kiriku, berikanlah cahaya dari atasku, dari bawahku. Jadikanlah cahaya pada tulangku, cahaya dalam dagingku, berikanlah cahaya pada darahku, pada rambutku dan berikanlah cahaya pada kulitku.”
Yaitu cahaya yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah swt berfirman,
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti lubang yang tak tembus [suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya] yang di dalamnya ada pelita besar.” (an-Nur [24]: 35)

Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas ra yang sudah kita sebutkan sebelumnya, dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau shalat tahajud dan berdoa, ”Ya Allah bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengatur langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau raja langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka juga benar, para Nabi, Rasul dan Muhammad saw itu benar serta hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku menyerahkan semua urusanku, kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku memusuhi dan kepada-Mu aku menuntut, maka ampunilah segala dosaku yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan serta yang aku rahasiakan dan yang aku nyatakan, Engkaulah zat yang Maha Dahulu dan zat yang Maha Terakhir, tidak ada Tuhan selain Engkau.“


Dikutip dari buku Jangan Takut, Jagalah Allah, Allah akan Menjaga Anda karangan DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dengan beberapa pengeditan.

Selengkapnya...

23 July 2009

Wali Allah

Siapakah para wali Allah itu?
Apakah mereka itu orang yang memakai jubah yang panjang dan lebar? Atau orang yang memakai ikat kepala? Ataukah orang yang tidur di tempat terbuka tanpa rumah?

Siapakah para wali Allah itu?
Apakah mereka adalah orang-orang yang mengeluarkan berbagai fatwa dan keputusan penting? Tangannya dicium dengan bolak-balik sehingga dia sangat berwibawa dan dipertuanagungkan?

Siapakah para wali Allah itu?
Secara umum, para wali Allah itu mempunyai sepuluh sifat atau karakteristik. Akan tetapi, kalau dirincikan dapat mencapai ratusan jumlahnya. Ada sepuluh karakteristik utama bagi para wali Allah. Barang siapa yang menemukan sifat-sifat tersebut pada dirinya, maka hendaknya dia memuji Allah dan barang siapa yang mendapatkan selain daripada itu, hendaknya ia hanya mencela dirinya sendiri.

1.Mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah semata.
Allah swt berfirman,
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (az-Zumar [39]: 65-66)
Ikhlas adalah Anda melakukan suatu pekerjaan dan Anda tidak mengharapkan pahala selain dari-Nya. Sebagian lagi ada yang mengatakan ikhlas adalah tidak ada makhluk yang menghalangi antara Anda dengan Allah swt. Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas adalah Anda melakukan suatu pekerjaan, baik di depan manusia ataupun dalam keadaan sendirian sama baiknya.

2.Menjadikan Rasulullah saw sebagai imam, pemimpin, dan suri tauladan.
Berhukum dengan hukumnya dan meneladaninya dalam segala tingkah lakunya, mereka juga memposisikan Rasulullah saw sebagai orang yang paling mereka cintai, bahkan lebih daripada pendengaran dan penglihatan mereka.
Allah swt berfirman,
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa [4]: 65)
Allah swt juga berfirman,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab [33]: 21)

3.Mencintai dan membenci semata-mata karena Allah.
Mereka mencintai sekelompok manusia karena kedekatan mereka kepada Allah dan mereka juga membenci sekelompok manusia lain karena mereka jauh dari Allah. Allah swt berfirman,
“Sesungguhnya penolong kamu adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
(al-Maidah [5]: 55)

4.Tidak menyimpan perasaan dengki, benci, dendam dan hasad kepada siapa saja dari hamba Allah swt.
Kita sering menemukan orang yang bersifat dengki, semoga Allah melindungi kita dari sifat tercela ini, dan menjadikan dengki itu sebagai salah satu sarana untuk memusuhi saudara-saudaranya karena mungkin mereka berselisih paham dalam suatu hal yang bersifat parsial atau yang bukan substansial. Allah swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan jangalah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (al-Hujurat [49]: 12)

5.Menyempurnakan ibadah-ibadah fardhu dan membekali diri dengan ibadah-ibadah sunnah.
Kalau Anda melihat seseorang yang gemar memelihara ibadah-ibadah fardhunya dan melaksanakannya sesempurna mungkin serta membekali dirinya dengan ibadah-ibadah sunnah, maka orang ini termasuk salah seorang wali Allah. Allah swt berfirman,
“Ingatlah sesungguhnya, wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus [10]: 62-63)

6.Akidah mereka adalah akidah ahlussunnah wal jamaah.
Mereka menjadikan permasalahan akidah dan tauhid ini sebagai permasalahan yang paling inti dan utama dalam retorika dakwah mereka, lalu mereka berdakwah kepada manusia, sebagaimana para Rasul mendakwahi manusia dalam merealisasikan ilmu tauhid (akidah) ini dalam kehidupan mereka dan membuang segala bentuk bid'ah dan penyimpangan dari kehidupan mereka. Mereka melakukan itu semua dengan berbagai cara, mulai dari buku-buku, nasihat-nasihat dan ceramah-ceramah.

7.Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan tidak pelit dalam menyebarkan ilmu.
Mereka senantiasa mengajari manusia dan menginfakkan sebagian rezeki yang Allah anugerahkan kepada mereka dan mereka juga tidak pelit terhadap ilmu mereka.
Allah swt berfirman,
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran [3]: 104)
Dan Allah swt juga berfirman,
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran [3]: 110)


8.Senantiasa ingin mencintai dan bersatu dengan kaum muslimin serta tidak menyukai perpecahan.
Seorang wali Allah senantiasa menginginkan dan mencintai kaum muslimin yang berjalan sesuai metode Al-Qur'an dan Hadits tanpa membedakan siapa pun mereka itu. Kaum muslimin itu satu jamaah yang solid, tidak bisa dibagi-bagi dan tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

9.Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits dalam menyelesaikan perselisihan dan perpecahan.
Kalau mereka berselisih paham dalam suatu masalah, mereka akan segera meneliti dan membahasnya di dalam Al-Qur'an dan Hadits. Allah swt berfirman,
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (asy-Syura [42]: 10)
Kita tidak membutuhkan berbagai teori atau ijtihad atau pendapat yang cemerlang dan brilian dalam bentuk apapun dalam menafsirkan Al-Qur'an dan Hadits, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

10.Berkata benar dan menjauhi perkataan yang batil.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Nasa'i, Rasulullah selalu berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon Khasyyah (perasaan takut yang sangat) kepada-Mu, baik dalam keadaan gaib maupun terang-terangan dan aku memohon perkataan yang benar kepada-Mu, baik ketika marah maupun ketika tidak marah”
Janganlah karena kebencian kepada sekelompok manusia membuat Anda tidak berlaku adil terhadap mereka sehingga Anda menipu, bertindak sewengang-wenang, dan mengada-ada terhadap mereka. Sekali-kali jangan, jadilah Anda sebagai orang-orang yang adil.


Dikutip dari buku Jangan Takut, Jagalah Allah, Allah akan Menjaga Anda karangan DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dengan beberapa pengeditan.

Selengkapnya...

31 May 2009

Kisah Dua Ekor Burung

Alkisah ada seorang pedagang yang akan melakukan perjalanan jauh untuk berdagang ke negeri seberang. Saat hendak berangkat pedagang tersebut bermaksud untuk shalat subuh berjamaah di masjid. Setelah shalat, pedagang tersebut bertemu dengan ulama setempat. Pedagang itu berpamitan dan meminta doa restu dari ulama tersebut. Lalu berangkatlah ia.

Seusai shalat maghrib, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri sang ulama. Ternyata orang tersebut adallah pedagang yang baru berangkat tadi subuh. Dengan terheran-heran sang ulama bertanya kepada pedagang tersebut. Mengapa kamu cepat sekali berdagangnya, untuk sampai ke negeri seberang saja membutuhkan perjalanan beberapa hari sedangkan kamu belum satu hari sudah sampai di sini lagi. Pedagang itu pun menjawab. Saya memang belum sampai ke negeri seberang karena saat di tengah perjalanan saya mendapat pelajaran dari dua ekor burung.

Ada seekor burung yang sayapnya luka sehingga tidak bisa terbang dan mencari makan. Burung tersebut sungguh kasihan karena hanya bisa berdiam di tempatnya saja. Saya berinisiatif untuk menolongnya. Akan tetapi saat saya akan menolong, ada seekor burung lain yang datang menghampiri burung yang sedang terluka tersebut. Dengan hati-hati burung itu memberikan makanan yang ada di paruhnya untuk diberikan kepada burung yang terluka. Hal itu dilakukannya secara berulang-ulang. Dari situ saya berpikir bahwa rezeki itu Allah yang mengatur. Jadi lebih baik saya berdagang disini saja, dekat dengan rumah. Tidak perlu jauh-jauh karena pasti sudah ada rezeki yang Allah gariskan untuk saya. Pedagang itu menambahkan. Lalu apa tanggapan sang ulama atas jawaban pedagang tersebut. Sang ulama menjawab. Mengapa kamu tidak berusaha menjadi burung yang kedua. Seekor burung yang dapat memberikan manfaat kepada burung lain.

Memang rezeki sudah ada yang mengatur yaitu Allah. Akan tetapi mengapa kita tidak berusaha untuk menggapai rezeki tersebut dengan usaha maksimal. Dari sedikit cerita di atas, kita harus berusaha untuk menjadi burung yang kedua. Begitu juga di dalam kehidupan kita harus berusaha agar diri ini bermanfaat bagi orang lain. Tidak selamanya kita menjadi mustahik. Pasti ada suatu saat kita menjadi muzakki. Untuk itu diperlukan suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai hal tersebut. Jadi jangan puas dengan keadaan kita saat ini. Kita harus senantiasa untuk menjadi lebih baik lagi, lagi, dan lagi. Orang besar bukanlah orang yang dapat berkata inilah saya, tetapi adalah orang yang dapat berkata inilah manfaat yang dapat saya berikan untuk orang lain.

Selengkapnya...

17 May 2009

Shalat Khusyu'

Shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di yaumil akhir. Jika shalatnya bagus maka bagus pula amal yang lain tetapi jika shalatnya buruk maka buruk pula amal yang lain. Shalat bukan hanya sekedar asal gerak saja tetapi ada faktor lain yang membuat shalat diterima Allah. Faktor tersebut adalah khusyu' dalam shalat. Berikut kiat-kiat menumbuhkan kekhusyu'an dalam shalat.
  • Definisi Khusyu'. Khusyu' adalah suasana hati yang tunduk dan merasa hina ketika shalat dan merasa berdialog secara penuh dengan Allah. Jika hati tunduk, maka semua anggota tubuh pun akan tunduk dan tenang. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah: 45-46)
  • Khusyu' Adalah Perintah Allah. Kata khusyu' dalam Al-Qur'an disebutkan sebanyak 17 kali antara lain: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah. (Al-Hadid: 16)
  • Khusyu' Adalah Sunnah Rasulullah. Rasulullah adalah imam orang-orang yang khusyu'. Dalam hadits yang sangat populer beliau memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak khusyu'. “Ya Allah lindungilah aku dari hati yang tidak khusyu', dari doa yang tidak diperhatikan, dari nafsu yang tak pernah puas, dari ilmu yang tak bermanfaat, lindungilah aku dari keempat hal tersebut.” (HR. Tirmidzi)
  • Cara meraih Kekhusyu'an
  1. Renungkan semua kata dalam adzan, karena prosesi shalat dimulai dari adzan.
  2. Upayakan agar hati, perasaan, dan akal pikiran telah khusyu' sejak mendengar adzan.
  3. Bebaskan akal, pikiran, perasaan dari berbagai hal yang menggaunggu kekhusyu'an.
  4. Persiapan shalat telah dilakukan +15 menit sebelum waktu shalat tiba (bandingkan dengan persiapan bertemu dengan orang besar).
  5. Waktu shalat tidak dikalahkan oleh kesibukan apa pun.
  6. Shalat tepat di awal waktu.
  7. Wudhu' dilakukan secara baik dan benar dengan melengkapi sunnah-sunnahnya.
  8. Shalat dilakukan secara berjamaah di Masjid.
  9. Berjalan ke Masjid biasa-biasa saja, tidak tergesa-gesa.
  10. Memandang tempat sujud.
  11. Tidak melihat gambar atau tulisan.
  12. Suasana tenang dan hening, tidak berisik dan hiruk pikuk.
  13. Udara tidak panas, tidak pengap, dan tidak sumpek.
  14. Shalat tahyatul Masjid.
  15. Shalat sunnah wudhu'.
  16. Shalat qabliyah.
  17. Shalat antara adzan dan iqomat.
  18. Shalat ba'diyah (selain ashar dan subuh).
  19. Shalat wajib dengan melaksanakan sunnah-sunnahnya.
  20. Sadar bahwa yang akan/sedang ditemui atau dihadapi adalah Allah yang serba Maha (Maha Besar, Kuat, Gagah, Perkasa, Pengasih, Penyayang, Pemberi Rezeki, Pelindung, Pemelihara, Melihat, Mendengar, dll).
  21. Bacaan dan gerakan shalat tidak tergesa-gesa.
  22. Memahami setiap makna kata yang dibaca di dalam shalat.
  23. Merasa dilihat dan diperhatikan Allah.
  24. Dalam keseharian banyak berdzikir kepada Allah terutama dengan Asmaul Husna dengan merenungkan maknanya.
  25. Dalam keseharian menyisihkan waktu untuk muhasabah tentang betapa besar zat kekuasaan Allah, betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, betapa sayangnya Allah kepada kita, betapa kurangnya syukur kita kepada Allah, betapa tidak tahu diri kita dalam menghadapi nikmat Allah yang begitu melimpah, betapa kecil, lemah, hinanya kita di hadapan Allah.
  26. Sadari diri kita benar-benar kecil dan tidak berdaya serta benar-benar memerlukan kasih sayang dan pertolongan Allah.
  27. Renungkan setiap gerakan dan bacaan yang terdapat dalam shalat. Kemudian hasil renungan tersebut diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  28. Dalam keseharian membiasakan diri berihsan dan muraqabah (merasa selalu dilihat, diperhatikan, diawasi oleh Allah).
  29. Merasa masih banyak dosa yang perlu ampunan Allah.
  30. Mencurigai batas usia, jangan-jangan shalat kita sekarang adalah shalat yang terakhir.
  31. Cinta kepada Allah dan menempatkan Allah di atas segala-galanya.
Sumber: Kultum ba'da dzuhur @MUI

Selengkapnya...

14 May 2009

Profil

Kukuh Kurniadi. Lahir di Jakarta 4 Mei 1988, anak ketiga dari empat bersaudara dan yang paling ganteng di rumah. Memulai risalah pendidikan formal di TK Pembina, berlanjut ke SD Negeri 01 Pagi Batu Ampar, berlanjut lagi ke SMP Negeri 49 Jakarta, lalu ke SMA Negeri 14 Jakarta. Saat ini masih kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Beralamat di Condet Batu Ampar yang sudah ditempati dari lahir sampai sekarang. Seorang biker yang masih sering nyasar kalau mencari alamat. Ibaratnya pergi ke suatu tempat tiga kali, nyasarnya bisa sampai empat kali. Penikmat kopi yang berperawakan tidak gemuk meski penyuka segala jenis makanan (yang halal apalagi gratis). Mempunyai hobi mengamati suatu hal, mulai dari tingkah laku sampai kebiasaan orang lain, bahan bacaan, bahkan acara-acara Tv. Mencoba aktif menuliskan suara di blog sebagai ajang berbagi dan menambah pengetahuan.
Salam Persaudaraan!!

hp :085693223869
e-mail :k2h_krndi@yahoo.co.id
ym :k2h_krndi

k_k

Selengkapnya...