Adapun mengenai faktor-faktor yang dapat membantu untuk melakukan qiyamullail sangat banyak sekali, sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama, diantaranya adalah:
Faktor Pertama:
Bertasbih tiga puluh tiga kali ketika tidur, bertahmid tiga puluh tiga kali dan bertakbir tiga puluh tiga kali.
Dalil yang menguatkan hal itu adalah bahwa Fathimah binti Rasulullah saw ra meminta seorang pembantu yang akan membantunya atau seorang hamba sahaya yang akan menolongnya kepada Rasulullah saw.
Maka Rasulullah saw bersabda, “Maukah kamu berdua aku tunjuki kepada suatu kebaikan yang lebih baik daripada seorang pembantu. Apabila kamu berdua hendak tidur, maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh tiga kali.”
Faktor Kedua:
Hendaknya seorang muslim melakukan tidur di siang hari, baik itu sebelum shalat Dzuhur bagi orang yang tidak mempunyai pekerjaan di waktu itu atau setelah makan siang (setelah Dzuhur).
Faktor Ketiga:
Menghindari dosa dan kesalahan semaksimal mungkin, karena hal ini adalah penyebab utama dari tersia-siakannya sebuah amal dan penyebab kemalasan dan kelemahan untuk melakukan qiyamullail.
Suatu ketika orang-orang berkata kepada Hasan Basri, “Wahai Abu Said, kami tidak mampu untuk melakukan qiyamullail.” Hasan Basri mengatakan, “Demi Allah, kalian telah dikekang oleh kesalahan dan dosa-dosa kalian.”
Faktor Keempat:
Jangan begadang di malam hari (tidur terlalu larut malam) karena begadang tidak ada manfaatnya. Bahkan hal itu akan memberikan mudharat bagi seorang hamba.
Para ulama mengatakan, “Barang siapa yang begadang sampai melewatkan shalat Shubuh, dia telah melakukan sesuatu yang diharamkan, meskipun dia begadang untuk membaca al-Qur'an. Karena membaca al-Qur'an itu hukumnya sunnah.”
Bagaimana dengan orang-orang yang begadang dengan perbincangan dan obrolan yang sia-sia sehingga dia melewatkan shalat Shubuh?
Mengenai doa di waktu qiyamullail ada tiga doa supaya seorang muslim menghafalnya yang mana saja yang dia sukai. Apabila dia tidak mampu untuk menghafalnya, maka hendaknya dia berdoa dari apa saja yang dia mampu karena Allah swt menerima doa dari hati yang khusyuk. Jadi, kefasihan dan kehebatan gaya bahasa tidak berarti akan dekat kepada Allah swt apabila hatinya lalai.
Dalam shahih Muslim, Aisyah ra berkata, apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau berdoa, “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang disaksikan, Engkau memutuskan di antara para hamba-Mu terhadap sesuatu yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku kepada kebenaran dalam sesuatu yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”
Dalam salah satu hadits shahih dikatakan bahwa Rasulullah saw berdoa ketika qiyamullail, “Ya Allah berikanlah cahaya di hatiku, berikanlah cahaya pada pendengaranku, berikanlah cahaya pada penglihatanku, berikanlah cahaya di hadapanku, berikanlah cahaya dari belakangku, berikanlah cahaya dari samping kananku dan samping kiriku, berikanlah cahaya dari atasku, dari bawahku. Jadikanlah cahaya pada tulangku, cahaya dalam dagingku, berikanlah cahaya pada darahku, pada rambutku dan berikanlah cahaya pada kulitku.”
Yaitu cahaya yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah swt berfirman,
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti lubang yang tak tembus [suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya] yang di dalamnya ada pelita besar.” (an-Nur [24]: 35)
Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas ra yang sudah kita sebutkan sebelumnya, dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau shalat tahajud dan berdoa, ”Ya Allah bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengatur langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau raja langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka juga benar, para Nabi, Rasul dan Muhammad saw itu benar serta hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku menyerahkan semua urusanku, kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku memusuhi dan kepada-Mu aku menuntut, maka ampunilah segala dosaku yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan serta yang aku rahasiakan dan yang aku nyatakan, Engkaulah zat yang Maha Dahulu dan zat yang Maha Terakhir, tidak ada Tuhan selain Engkau.“
Dikutip dari buku Jangan Takut, Jagalah Allah, Allah akan Menjaga Anda karangan DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dengan beberapa pengeditan.
Selengkapnya...
Faktor Pertama:
Bertasbih tiga puluh tiga kali ketika tidur, bertahmid tiga puluh tiga kali dan bertakbir tiga puluh tiga kali.
Dalil yang menguatkan hal itu adalah bahwa Fathimah binti Rasulullah saw ra meminta seorang pembantu yang akan membantunya atau seorang hamba sahaya yang akan menolongnya kepada Rasulullah saw.
Maka Rasulullah saw bersabda, “Maukah kamu berdua aku tunjuki kepada suatu kebaikan yang lebih baik daripada seorang pembantu. Apabila kamu berdua hendak tidur, maka bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh tiga kali.”
Faktor Kedua:
Hendaknya seorang muslim melakukan tidur di siang hari, baik itu sebelum shalat Dzuhur bagi orang yang tidak mempunyai pekerjaan di waktu itu atau setelah makan siang (setelah Dzuhur).
Faktor Ketiga:
Menghindari dosa dan kesalahan semaksimal mungkin, karena hal ini adalah penyebab utama dari tersia-siakannya sebuah amal dan penyebab kemalasan dan kelemahan untuk melakukan qiyamullail.
Suatu ketika orang-orang berkata kepada Hasan Basri, “Wahai Abu Said, kami tidak mampu untuk melakukan qiyamullail.” Hasan Basri mengatakan, “Demi Allah, kalian telah dikekang oleh kesalahan dan dosa-dosa kalian.”
Faktor Keempat:
Jangan begadang di malam hari (tidur terlalu larut malam) karena begadang tidak ada manfaatnya. Bahkan hal itu akan memberikan mudharat bagi seorang hamba.
Para ulama mengatakan, “Barang siapa yang begadang sampai melewatkan shalat Shubuh, dia telah melakukan sesuatu yang diharamkan, meskipun dia begadang untuk membaca al-Qur'an. Karena membaca al-Qur'an itu hukumnya sunnah.”
Bagaimana dengan orang-orang yang begadang dengan perbincangan dan obrolan yang sia-sia sehingga dia melewatkan shalat Shubuh?
Mengenai doa di waktu qiyamullail ada tiga doa supaya seorang muslim menghafalnya yang mana saja yang dia sukai. Apabila dia tidak mampu untuk menghafalnya, maka hendaknya dia berdoa dari apa saja yang dia mampu karena Allah swt menerima doa dari hati yang khusyuk. Jadi, kefasihan dan kehebatan gaya bahasa tidak berarti akan dekat kepada Allah swt apabila hatinya lalai.
Dalam shahih Muslim, Aisyah ra berkata, apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau berdoa, “Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang disaksikan, Engkau memutuskan di antara para hamba-Mu terhadap sesuatu yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku kepada kebenaran dalam sesuatu yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau menunjuki siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”
Dalam salah satu hadits shahih dikatakan bahwa Rasulullah saw berdoa ketika qiyamullail, “Ya Allah berikanlah cahaya di hatiku, berikanlah cahaya pada pendengaranku, berikanlah cahaya pada penglihatanku, berikanlah cahaya di hadapanku, berikanlah cahaya dari belakangku, berikanlah cahaya dari samping kananku dan samping kiriku, berikanlah cahaya dari atasku, dari bawahku. Jadikanlah cahaya pada tulangku, cahaya dalam dagingku, berikanlah cahaya pada darahku, pada rambutku dan berikanlah cahaya pada kulitku.”
Yaitu cahaya yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah swt berfirman,
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti lubang yang tak tembus [suatu lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya] yang di dalamnya ada pelita besar.” (an-Nur [24]: 35)
Dalam hadits dari Abdullah bin Abbas ra yang sudah kita sebutkan sebelumnya, dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata apabila Rasulullah saw melakukan qiyamullail, beliau shalat tahajud dan berdoa, ”Ya Allah bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengatur langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau raja langit, bumi serta segala isinya, bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka juga benar, para Nabi, Rasul dan Muhammad saw itu benar serta hari kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku menyerahkan semua urusanku, kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku memusuhi dan kepada-Mu aku menuntut, maka ampunilah segala dosaku yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan serta yang aku rahasiakan dan yang aku nyatakan, Engkaulah zat yang Maha Dahulu dan zat yang Maha Terakhir, tidak ada Tuhan selain Engkau.“
Dikutip dari buku Jangan Takut, Jagalah Allah, Allah akan Menjaga Anda karangan DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dengan beberapa pengeditan.